Selasa, 14 Juli 2009

Cerpen : Otak Jepang


Cerpen : Otak Jepang
Otak Jepang



Lime belas menit lagi pak Surya segera masuk membagikan soal perkalian, penambahan, pembagian, pengurangan, maupun pemfaktorannya. Tapi aku belum siap meski semalaman aku belajar mengulang pokok-pokok bahasan yang pernah diajarkan pak Surya beberapa hari sebelumnya.

Aku sangat resah memikirkan apa yang akan terjadi bila aku tidak bisa menyelesaikan soal-soal yang penuh angka itu. Padahal hari-hari sebelumnya tidak pernah sesusah hari ini. Aku selalu tenang menghadapi soal-soal matematika itu. Aku menyelesaikan soal-soal itu dengan "otak Jepang". Apalagi kalau bukan kalkulator.

Semua soal perkalian, pembagian, maupun pemfaktoran dengan mudah kuselesaikan. Itu semua berkat "otak Jepang".

Sebenarnya aku tidak bisa perkalian maupun pembagian. Karena itulah aku selalu menggantungkan diri pada "otak Jepang". Aku tak bisa apa-apa tanpa "otak Jepang" itu.

Tadi malam aku sudah mempersiapkan untuk kubawa pagi ini. Tapi saat ini terus kucari di dalam tasku. Apakah tertinggal di rumah? Mungkin saja aku lupa menaruhnya di dalam tas.

Jantungku semakin berdebar tak menentu. Sepuluh menit lagi pak Surya masuk ke kelas. Aku melihat ke arah teman-temanku. Semua pada santai menanti datangnya soal yang akan memperbaiki nilai mereka.

Ingin aku pulang ke rumah hanya untuk mengambil bagian otakku yang ketinggalan. Tapi tempo waktu tidak mengizinkanku berbuat demikian.

Aku duduk sejenak memikirkan bagaimana cara mendapatkan "otak" yang seperti itu. Lalu aku pergi ke kelas adik leting, mungkin Ahmad mau meminjamkan apa yang kubutuhkan.

Sampai di depan kelasnya, kupanggil dia perlahan, "Ahmad" sambil melambaikan tanganku. Panggilan itu membuat semua mata melihat ke arahku.

Seketika keluar bu Ani yang terkenal cukup kejam di sekolah kami. Beliau bertanya, "Ada apa?"

"Saya ingin menemui Ahmad sebentar Bu," jawabku dengan suara sedikit gemetar.

"Katakan saja mau apa dengan Ahmad," paksa bu Ani.
"Saya mau meminjam kalkulatornya."

"Tidak ada kalkulator hari ini. Kami tidak ada jadwal matematika," jawab bu Ani dengan nada keras.
"Ya sudah. Permisi Bu." Aku kembali ke kelas dengan tangan hampa.
Tampaklah pak Surya sedang berjalan menuju kelasku. Dalam pikiranku terbayang, tamatlah aku hari ini. Beginilah kalau bergantung pada "otak" lain. Dengan wajah putus asa, aku duduk di kursiku.

Pak Surya tiba di pintu kelas. Beliau langsung membagikan soal matematika. Setelah semua mendapat soal, pak Surya mempersilakan kami mengisinya.

Dengan hati gelisah aku melihat butir soal itu satu persatu. Bentuk soalnya tidak begitu berbeda dengan yang diberikannya padaku beberapa hari lalu.

Tapi apa boleh buat, tanpa "otak Jepang" itu aku tetap saja tidak bisa menyelesaikannya. Kulihat ke samping kanan dan kiri. Tak kulihat wajah-wajah sekarat menghadapi soal-soal itu.

Yah, tidak ada jalan lain selain mencontek jawaban teman yang duduk di sebelahku. Namun sebenarnya itu tidak ada gunanya. Karena pada hari-hari sebelumnya dia hanya menjiplak pekerjaanku. Akhirnya aku tidak peduli lagi jawabannya salah atau benar. Yang penting semua soal terisi.

Waktupun habis, semua soal harus dikembalikan ke meja pak Surya. Di sinilah aku menyadari bahwa selama ini kepandaianku bukanlah kepandaianku yang sesungguhnya. Melainkan kepandaian "otak Jepang"-ku.



Subscribe

Related Posts by Categories



0 komentar:

Poskan Komentar

Followers

 

Kumpulan Cerpen, Cerita Motivasi. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com